Kelas gue, punya julukan tersendiri. Autis.
Yak, autis. Gue yang nyiptain julukan itu suatu hari dimusim kemarau. Alasannya? Pertama, tingkah polah manusia-manusia penghuni kelas ini sungguhlah autis. Tau kan "tingkah autis" itu kaya gimana? Iya, mereka lompat-lompat, salto, kapoera, dan ada juga yang kayang. Tiaaaaaap hari kaya gitu. Gapercaya? Coba deh ya, kalo ada waktu senggang gitu (kalo lo punya nyali juga sih) kalian masuk ke kelas gue. Letaknya di gedung c1, deket lapangan basket. Sungguh, kegaduhannya sulit untuk dibayangkan dan dideskripsikan, apalagi diskripsikan. (buset, maba aja belaga ngomongin skripsi)
*hening
Kedua, mereka semua gaada yang marah ataupun gaterima waktu gue nyebut kelas kita "Kelas Autis". And well, this is us! this is autis.
*benahin kerah
Emm, konon, autis punya seorang juru kunci. Juru kunci yang sangat tersohor, sampai-sampai tidak ada satu insan pun di fakultas ilmu pendidikan di universitas gue yang gatau sama nih orang. Juru kunci yang sangat eksis. Nah, disini gue mau nyeritain tentang dia. Seorang juru kunci kelas gue... Seorang Ketua Kelas Kami. *keren abiiis
Suatu hari, jauh dari pusat kota. Jauh dari yang namanya indomaret dan alfamaret, apalagi matos-maret (maaf, agak maksa).